Mengapa Indonesia tidak memilih LOCKDOWN?

Pertanyaan ini kerap dilempar oleh sebahagian masyarakat Indonesia, “Mengapa Indonesia tidak memilih LOCKDOWN?”
Setelah kemarin ada surat balasan dari pedagang kecil kepada aktivis yang meminta LOCKDOWN di Indonesia, kali ini ada tulisan dari salah seorang senior jurnalis di Indonesia yang mencoba mengulasnya dari sudut pandang berbeda.

India Lockdown Chaos

Sepertinya tulisan Muhammad Guntur Romli ini paling tepat mewakili dari berbagai jawaban yang bisa disampaikan. Mari kita simak:

Saya bersyukur Pak Jokowi tidak memilih lockdown sejak awal. Karena, seperti halnya India bisa jadi kacau. Pengumuman lockdown mendadak, tanpa persiapan. Masyarakat panik. Mereka bergerak seketika, menghindari lockdown, ternyata terjebak. Kacau. Chaos. Belum lagi kerumunan yang kacau itu menjadi potensi besar penyebaran virus corona.

Yang sejak awal menuntut lockdown selalu mencontohkan China, atau Vietnam, tanpa melihat perbedaan besar sistem politik dan sosial di Indonesia dengan China dan Vietnam. Ada komando politik yang kuat dan tunggal di China dan Vietnam dengan sistem satu partai: Partai Komunis dan otoritarianisme negara. Medsos dibatasi, sumber informasi disensor, yang berbeda dari Pemerintah dibungkam. Tak ada kritisisme dari masyarakat, alih-alih mau menolak, akan dihajar sampai berlutut.

Sistem politik otoriter seperti China dan Vietnam memang efektif di saat darurat, semuanya sudah ‘terbiasa’ karena lama dipaksa untuk tunduk pada satu komando.

Indonesia berbeda dari China dan Vietnam. Indonesia lebih dekat dengan India dari sisi politik, sosial dan budayanya. Ada multipartai, multiagama, gerakan sipil yang kuat, serta oposisi yang terus mengintip di tikungan dengan mimpi menjatuhkan–atau paling tidak–menjelek-jelekkan pemerintahan.

Andai Pak Jokowi memilih opsi lockdown sejak awal dan chaos, masyarakat panik, semunya morat-marit, pastilah mereka akan langsung menyerang Jokowi: kebijakannya amburadul, bikin rusuh.

Tapi, baru satu jam lalu mereka masih teriak-teriak tuntutan lockdown, setelah terdengar akan ada #karantinawilayah, teriakan mereka sudah berubah, kata mereka ‘sudah terlambat’. Hanya sejam mereka sudah berubah.

Aha! Memang mereka tidak sedang peduli pada bencana corona, mereka hanya ingin menjelek-jelekkan, menyerang dan mendiskreditkan Pak Jokowi!

Kebijakan Pak Jokowi selama ini dituding lambat, karena memang banyak yang harus dipikirkan, dan disiapkan, kalau cuma mengumumkan lockdown sejak awal merupakan perkara mudah. Tapi dampaknya yang berbahaya. Bisa kacau. ‘efek kejut’ yang bisa membahayakan. Ibarat anda membuat efek kejut pada orang yang tertidur untuk membangunkannya, tapi karena orang itu punya penyakit jantung, efek kejut itu malah bikin dia jantungan dan mati.

“Tapi masyarakat bingung” Pasti bingung. Tapi ada beda bingung dengan panik. Bingung itu masih bisa berpikir, terus bertanya dan mencari jawaban serta waspada. Dunia saat ini kebingungan dengan virus corona. Bingung karena pengetahuan soal virus corona belum sempurna. Makanya sampai saat ini masih belum ada vaksinnya. Dengan bingung masyarakat waspada, dituntut kedisiplinan mereka kalau tidak mau tertular virus corona. Di di rumah saja, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, menjaga kebersihan, kesehatan dan imunitas.

Beda dari panik, yang tidak lagi bisa berpikir. Panik bisa bikin gelap mata. Panik karena sudah tidak ada lagi harapan.

#KarantinaWilayah akan segera diterapkan khususnya daerah zona merah Covid-19. Akses keluar-masuk wilayah itu akan ditutup, harapannya pergerakan penyebaran virus corona melalui pergerakan manusia bisa diatasi. Tempo 2 minggu lebih sudah waktunya meningkatkan disiplin. Namun dengan catatan tes massal hingga tes lab harus terus diperbanyak di kawasan yang dikarantina itu, juga perlengkapan tenaga medis dengan alat-alat APD dan lainnnya serta perawatan di rumah sakitnya.

Mari kita siapkan diri untuk meningkatkan perjuangan melawan virus corona. Insya Allah kita akan menang.

Mohamad Guntur Romli

Balasan Pedagang Kecil kepada Aktivis terkait Lockdown Corona

Balasan surat pedagang makanan kecil yang sangat menohok untuk aktivis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang meminta Presiden Jokowi mundur di tengah bencana virus Corona.

Teruntuk Riyan Hidayat, Apa yang bisa Anda Beri untuk Indonesia?

Kenalkan nama saya Reza. Seorang pekerja lepas, pelaku seni dan pedagang makanan juga. Saya membaca kiriman surat terbuka di WA, tertulis dari anda. Disitu anda mengaku sebagai seorang Aktivis, Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017. Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Membaca surat anda membuat batin saya bergetar hebat. Apakah seperti ini kelas aktivis di tengah situasi krisis terbesar Bangsa menghadapi virus Corona? Apakah segini ukuran intelektualitas mahasiswa pascasarjana? saya tidak berpendidikan tinggi seperti anda, malu memanggil anda sebagai aktivis atau mahasiswa.

Bung Riyan, tulisan anda panjang lebar, nyaris tanpa isi. Hanya mengoceh. Hanya nyinyir. Narasinya disusun seolah anda seorang intelektual, tapi isinya NOL BESAR. Baca entri selengkapnya »

LIAR

LIAR
(oleh Yuktiasih Proborini)

Dua malam lalu, diskusi seru lewat telpon bersama seorang teman sangat dekat.
Entah mengapa, kami connected sejak kenal pertama kali.
Ke mana pun kami pergi akan selalu terhubung.
Ke mana pun kami pindah kota, selalu bisa tersambung.
Kadang aku merasa aneh dengan hubungan kami. Nyata tapi maya.
Sangat nyata tapi tidak kasat mata.

Kami sepakat bahwa Corona COVID 19 ini adalah seperti pikiran liar.
Iqra kami sama:
dia adalah pikiran liar manusia yang sudah merajalela dan bahkan kadang menghasilkan hal yang menafikan Kuasa dari Sang Maha Kuasa. Baca entri selengkapnya »

SIAPAKAH SI MUNAFIK ITU…❓

Saat China terkena corona, para kadrun dan ustadz wahabi tepuk tangan kegirangan “mampus lu komunis musuh Islam”. Giliran corona menyerang Makkah, mereka bisu.

Saat China terkena corona warganya bersatu padu bersama mengatasi virus. Nilai kemanusiaan dan empati sesama anak bangsa mereka tunjukkan. Semua ikhlas jadi relawan demi keselamatan bangsa. Padahal mereka dibilang kapir komunis.

Indonesia yang mengaku paling sholeh, religius dan beriman malah saling hujat dan terpecah belah antar anak bangsa. Isu corona ditunggangi dan dijadikan komoditi politik murahan demi ambisi berkuasa kelompok kadrun.

Mulai dari kroco, ustadz, anggota dewan hingga gubernur kadrun bersatu bikin hoax, provokasi dan menebar ketakutan agar tercipta chaos yang memungkinkan mereka untuk makar dan membangkitkan revolusi. Baca entri selengkapnya »

Bantuan Corona dari China

Pada awal penyebaran CoViD-19, Jepang memberikan paket bantuan kemanusiaan ke China. Di kotak-kotak bantuan tersebut, mereka menuliskan kutipan puisi dari zaman Dinasti Tang:
“Meski berasal dari tempat yang berbeda, namun kita berada di bawah langit yang sama”

Tindakan inspiratif ini kemudian diikuti oleh China ketika membantu negara-negara lain.

Ketika China mengirim paket bantuan ke Korea Selatan, di kotak-kotak bantuan tersebut, mereka menuliskan kutipan dari zaman Dinasti Joseon:
“Pohon pinus dan pohon cemara di musim dingin, tidaklah saling melupakan satu sama lain”

Ketika China mengirim paket bantuan ke Iran, di kotak-kotak bantuan tersebut, mereka menuliskan kutipan dari zaman Persia Muslim:
“Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber, ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian tubuh yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri” Baca entri selengkapnya »

KETIKA VIRUS CORONA MEMBUNGKAM WAHABI

Setelah menyaksikan pemerintah Arab Saudi memerintahkan agar masjid-masjid di Arab Saudi dikosongkan, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?!

Setelah menyaksikan pemerintah Arab Saudi melarang umrah, thawaf dan sa’i, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?!

Lalu setelah mendengar Menteri Urusan Agama Islam Arab Saudi memerintahkan shalat jenazah di kuburan, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?! Setelah negara Qatar dan Uni Emirat Arab menutup semua masjid, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?!

Bukankah menutup masjid, melarang umrah, thawaf, sa’i dan menshalatkan jenazah di kuburan itu, bid’ah?! Bukankah Nabi saw, sahabat dan generasi salafus shalih tidak pernah melakukan hal yang demikian?! Mengapa kaum Wahabi di Indonesia diam seribu bahasa menyaksikan bid’ah terbesar yang dilakukan oleh negara-negara “sunnah” di Arab?! Atau Apakah kaum Wahabi di Indonesia tidak punya istilah syar’i untuk membenarkan bid’ah-bid’ah tersebut?

Ketika Virus Corona Membungkam kaum Wahabi

Ketika Virus Corona Membungkam kaum Wahabi

Baca entri selengkapnya »

Munajat Corona

Inikah caraMu menunjukkan kuasa atas kami
Peradaban yang kami bangun ternyata serapuh virus yang begitu kecil
Bagaimana pula kami harus melawan murkaMu yang begitu besar
Segala macam senjata perang tak berdaya menghadapi musuh yang tak terlihat

China dan Amerika tengah berebut menjadi negara adidaya nomor satu
Saudi dan Iran terus ribut Sunni-Syiah tak berkesudahan
Eropa pun konflik sesama mereka sejak Brexit mengemuka
Indonesia tercinta terus mempolitisasi agama tiada henti

Tiba-tiba virus itu hadir
Luluh lantak semua kesombongan kami yang seolah berlomba menguasai panggung peradaban dunia

Penduduk dunia seolah terpenjara
Dalam rumah mereka sendiri
Dalam batas negara mereka sendiri

Kemakmuran ekonomi yang mereka agungkan kini terancam pupus dengan kerugian pundi dan sendi ekonomi mereka Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Agama. Tag: , . Leave a Comment »
%d blogger menyukai ini: