Balasan Pedagang Kecil kepada Aktivis terkait Lockdown Corona

Balasan surat pedagang makanan kecil yang sangat menohok untuk aktivis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang meminta Presiden Jokowi mundur di tengah bencana virus Corona.

Teruntuk Riyan Hidayat, Apa yang bisa Anda Beri untuk Indonesia?

Kenalkan nama saya Reza. Seorang pekerja lepas, pelaku seni dan pedagang makanan juga. Saya membaca kiriman surat terbuka di WA, tertulis dari anda. Disitu anda mengaku sebagai seorang Aktivis, Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017. Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Membaca surat anda membuat batin saya bergetar hebat. Apakah seperti ini kelas aktivis di tengah situasi krisis terbesar Bangsa menghadapi virus Corona? Apakah segini ukuran intelektualitas mahasiswa pascasarjana? saya tidak berpendidikan tinggi seperti anda, malu memanggil anda sebagai aktivis atau mahasiswa.

Bung Riyan, tulisan anda panjang lebar, nyaris tanpa isi. Hanya mengoceh. Hanya nyinyir. Narasinya disusun seolah anda seorang intelektual, tapi isinya NOL BESAR.

Anda meracau tentang banyak persoalan bangsa. Ah…! Saya tak mau membahas selain fokus pada kasus Corona yang ada dalam surat terbuka anda. Biar anda gak hidup dalam kebodohan mengatasnamakan intelektualitas.

Anda teriak-teriak minta lockdown secara nasional. Anda tau apa artinya?! semua dibatasi. Semua. Tanpa terkecuali. Termasuk saya gak bisa lagi berjualan makanan di gerobak kecil pinggir jalan. Tetangga, bapak emak di kampung anda juga. Tidak ada yang boleh keluar rumah bahkan sekedar cari hidup. Anda tahu berapa pekerja informal di Indonesia? 70 Juta jiwa lebih!! Ini bukan soal urusan ekonomi, ini soal urusan hidup dan mati.

Indonesia ini luas. Geografis kita berpulau-pulau. Anda bisa jaga keamanan dan keselamatan? anda mau pemerintahan dikuasai militer? anda mau rusuh? anda mau yang kaya menguasai makanan si miskin? anda mau negara kita ambruk karena lockdown?! anda mau kami-kami ini menunggu di rumah saja menunggu mati, padahal ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menekan virus ini. Jangan asal minta lockdown. Jangan!

Anda bicara seolah-olah anda itu nasionalis, tapi sesungguhnya anda sungguh-sungguh anak Bangsa yang dipenuhi aura pesimis.

Anda bertanya soal bantuan untuk UMKM, padahal berhari-hari sebelum tulisan anda keluar, para petinggi di atas sana rapat siang malam telah memikirkan. Apa anda tak baca berita, tagihan ojek dan supir taksi sudah ditangguhkan setahun? UN dibatalkan? semua Menteri dan Kepala daerah sudah diminta mengalihkan anggaran kedinasan dan fokus ke ekonomi padat karya untuk mengantisipasi dampak corona?

Apa anda tidak baca, akan ada bantuan tunai langsung yang akan dibagikan pada belasan juta rakyat kecil terdampak? apakah anda tidak baca kebijakan dana desa sudah dibolehkan untuk tangani corona? apakah anda tidak baca triliunan anggaran negara sudah dialihfungsikan hanya dalam waktu beberapa hari untuk menjaga daya beli masyarakat?

Apa anda tidak baca BUMN dan perusahaan swasta lagi mengalihkan produksi ke alat-alat kesehatan seperti masker dan pelindung bagi tenaga kesehatan? Apa anda tidak baca gotong royong massif antara rakyat dan negara sudah menghasilkan dana inisiatif yang jumlahnya triliunan? Jika anda belum baca, maka BACALAH. Jadi anda tidak memalukan mengaku sebagai kalangan intelektual, tapi intelektual yang hidup dalam kedunguan.

Anda beranggapan sendiri seolah-olah kalau anda dirundung, semuanya adalah kerjaan influencer. Padahal tulisan anda sendirilah yang membuat anak bangsa yang masih waras menjadi geram. Sebagian yang emosi, akan wajar membuat mereka menilai seperti yang anda tuliskan sendiri ”

”(saya)…dibilang bodoh, tolol, engga ada otak, bacot, suruh pindah negara..”. Bagi saya, anda memang layak mendapat semua rundungan itu. Tulisan anda menunjukkan kualitas otak anda.

Bung Riyan, anda dengan bijak menuliskan, bahwa dalam kondisi begini bukan waktunya saling menyalahkan, tapi apa yang anda tuliskan, jelas menunjukkan bahwa anda tergolong anak bangsa yang ingin menggerogoti bangsa anda sendiri. Anda makhluk pesimis.

Di tengah situasi bencana dimana semua orang gotong royong dan membangun semangat optisme, anda masih saja sinis pada pemerintah. Seolah-olah menjadi pahlawan dengan tulisan anda, seolah-seolah jika anda yang menjadi Presiden-nya, semua akan beres. Sungguh naif.

Berkacalah pada mahasiswa ITS, Surabaya. Mereka tidak banyak bacot seperti anda untuk negaranya. Tapi mereka bergerak memproduksi alat pelindung wajah untuk tenaga medis Covid-19. Atau berkacalah pada anak SMK, yang bergerak bersama Guru mereka membuat hand sanitizer dan membagikannya gratis ke lingkungan sekitar. Dimana posisi anda?!

Pada surat terbuka anda, di tulisan terakhir, semakin menunjukkan kedunguan anda sebagai seorang intelektual. Anda menuliskan untuk Presiden Jokowi ”…maka saran mundur dari jabatan Presiden mungkin bisa dipertimbangkan lebih awal. Selanjutnya kita ingin mendengar DPR, Partai Politik, dan rakyat bersuara”. GOBLOK! Anda benar-benar goblok.

Anda mau negara kita rusuh tiba-tiba Presidennya mundur?! Trus mau nyerahkan kekuasaan ke DPR, Partai Politik dan rakyat?! Maksud loeeeeee!!!! Anda kira Presiden dan semua pejabat negara itu mau membunuh rakyatnya?? DUNGU anda itu! Anda itu intelektual atau ‘telek’ tual sih?!

Saya sebagai seseorang yang berpendidikan rendah saja tau, negara kita memiliki aturan, bukan negara bar-bar, bukan negara yang milih Presiden seperti milih sayur di pasar. Ada mekanisme pemilihan Presiden yang sah sesuai UU. Apakah anda tidak menyadari itu? apakah anda sebodoh itu menyarankan Presiden mundur begitu saja di situasi bencana? Anda mau rakyat kehilangan pemimpin sah-nya dan menyerahkan kemana-mana seperti kata anda? GILA!

Kalau anda mau menurunkan Presiden, nanti saja. Ketika virus ini sudah berhenti penyebarannya, sana noh ajak teman-teman anda demo turun ke jalan-jalan. Kagak ada yang laraaaang! TAPI JANGAN SEKARANG!!!!!

Di saat semua orang sedang bergandeng tangan melawan virus Corona, di saat para pejuang kesehatan berada di garde terdepan, di saat para orang kaya ramai-ramai mengumpulkan donasi untuk membantu orang miskin, anda dimana? mengapa jari-jari anda masih saja mengobok-obok bangsa dengan pesimisme yang kosong tak bernilai?!

Kalau anda mau pesimis dengan hidup anda yang penuh kedunguan dan kebodohan, maka pesimislah sendiri.

Kami akan terus bergerak untuk bangsa ini. Karena kami bagian dari Indonesia, dan bangsa Indonesia adalah bangsa petarung. Kami ingin jadi pemenang. Bukan pecundang seperti anda yang hanya bisa menuliskan kata-kata lebay seolah-olah anda bisa menyelesaikan masalah hanya dengan tulisan nyinyir.

Saya akan beri anda tepuk tangan dan seluruh jempol, jika anda telah memberi sekecil apapun bagi bangsa ini, selain hanya bisa nyinyir dengan surat terbuka anda yang tak berisi.

Karena sifatnya adalah surat terbuka, maka saya memberi komentar secara terbuka pula: Tanpa sadar, lewat tulisan surat terbuka anda sedang menunjukkan pada seisi Negara, Andalah VIRUS Bangsa yang lebih jahat dari VIRUS Corona itu sendiri.

Salam
Reza (@reyzha.keroro) seorang pekerja lepas, pelaku seni dan pedagang makanan

Ditulis dalam Sosial Budaya. Tag: , . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Balasan Pedagang Kecil kepada Aktivis terkait Lockdown Corona”

  1. Mengapa Indonesia tidak memilih LOCKDOWN? | Blog Ajaran Says:

    […] “Mengapa Indonesia tidak memilih LOCKDOWN?” Setelah kemarin ada surat balasan dari pedagang kecil kepada aktivis yang meminta LOCKDOWN di Indonesia, kali ini ada tulisan dari salah seorang senior jurnalis di Indonesia yang mencoba […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: