Pola Pikir tanpa Iman

Iman sangat mempengaruhi paradigma atau cara berpikir orang. Cara berpikir mempengaruhi tindakan. Iman mempengaruhi tindakan dan cara hidup orang. Orang beriman percaya pada hal-hal gaib, soal adanya kekuatan gaib yang tidak bisa dicerna dengan akal. Dalam hal yang mereka percayai, mereka bisa menyampingkan akal. Hal-hal yang tak masuk akal mereka yakini. Bahkan mereka bisa mengabaikan hal-hal yang masuk akal, memilih pikiran dan tindakan tidak masuk akal.

Berikut contoh-contoh perbedaan pola pikir orang beriman dan tak beriman.

Sakit
Orang beriman menganggap sakit itu sesuatu yang diberikan Tuhan. Entah untuk menguji atau menghukum manusia. Karena sakit, seseorang minta ampun pada Tuhan, dan berdoa agar disembuhkan. Bagi orang tak beriman, sakit adalah perubahan fungsi organ tubuh dari keadaan normalnya. Perubahan itu bisa disebabkan oleh gagal atau menurunnya fungsi organ oleh sebab-sebab fisiologis, atau oleh adanya infeksi kuman (bakteri atau virus). Agar sembuh, orang cukup minum obat atau menjalani terapi/tindakan medis.
Tapi bukankah orang beriman juga menerima fakta medis serta infeksi? Ya, tapi mereka meyakini itu semua ditentukan oleh Tuhan. Tuhanlah yang mengirim virus atau bakteri. Mereka berpikir bahwa Tuhan bisa mengekspresikan kemarahannya dengan kuman. Masih ingat kan, ada yang bilang bahwa virus Covid19 itu tentara Tuhan?

Jodoh
Orang beriman percaya bahwa manusia itu ada jodohnya. Manusia dipertemukan Tuhan dengan jodohnya. Pernikahannya ditakdirkan Tuhan. Dengan siapa dia menikah, diatur oleh Tuhan. Entah kenapa, yang diatur oleh Tuhan itu pun bisa pula berujung pada perceraian. Perceraian juga mereka yakini sebagai kehendak Tuhan. Bukan, misalnya, akibat suami menganggur, suka KDRT, atau selingkuh.
Bagi orang tak beriman tidak ada konsep jodoh. Pertemuan antara 2 orang terjadi akibat pergerakan sosialnya. Orang Subang yang tak pernah keluar dari kampungnya tidak menikah dengan orang Milan yang tak pernah bepergian. Pernikahan adalah pilihan yang dibuat oleh kedua orang itu. Perceraian juga begitu.

Bencana
Bagi orang beriman bencana itu terjadi karena Tuhan menggerakkan bagian alam untuk mengganggu atau bahkan membinasakan manusia. Ada yang sifatnya ujian, ada yang sifatnya hukuman.
Bagi orang tak beriman, bencana itu adalah akibat hukum alam saja. Batu jatuh karena gravitasi. Semua batu akan jatuh ke bawah. Kalau menimpa manusia, atau barang milik manusia, itu jadi bencana. Gunung meletus terjadi akibat aktivitas magma dalam perut bumi. Tiap saat sebenarnya ada gunung meletus di dasar laut. Tapi karena tidak berpengaruh pada hidup manusia, kita tak menyebutnya bencana.

Rezeki
Manusia mendapatkan apa yang mereka inginkan, berupa makanan, atau benda-benda yang mereka butuhkan, atau uang. Orang beriman percaya bahwa itu semua diatur oleh Tuhan. Sudah ada takarannya. Tuhan memberi, kadang mengambil dari manusia, suka-sukanya Tuhan.
Bagi orang tak beriman yang didapat manusia adalah hasil dari yang mereka usahakan, produk interaksi manusia dengan alam dan manusia lain. Tidak ada takaran tetap atas apa yang didapat manusia. Juga tidak ada yang mengambilnya. Kehilangan adalah akibat interaksi pula.

Anda pilih sikap yang mana? Pilihan sepenuhnya hak Anda.

Tulisan oleh: Hasanudin Abdurakhman
FB: https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman

Ditulis dalam Agama. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: