Garda yang terlupakan, Cleaning Service

Cleaning service, begitu khalayak memanggilnya.
Kadang perannya terbaikan, kadang manusianya juga dinomorsekiankan.

Cleaning service, mereka hampir tak pernah dibicarakan, walau sudah sebulan pandemi menghantui, nyatanya mereka berbaku keringat memastikan semuanya tetap bersih sediakala.

Kita bicara tentang dokter, perawat, tenaga medis, relawan, tenaga keamanan, polisi dan tetara tapi kita lupa ada mereka.

Kita menyumbang untuk semua tenaga kesehatan, relawan dan keamanan, tetapi kita lupa mereka juga ada. Baca entri selengkapnya »

PREN.SINERGI.PREN

Barusan saya membaca sebuah postingan di WAG alumni, cerita tentang hati emasnya seorang yang bernama Baim Wong. Dalam cerita yang menarik itu dikisahkan, betapa beraninya bongkahan hati Baim Wong dengan menyumbang 15 Milyar untuk penanggulangan pageblug Corona ini.

Saya terkesan ilustrasi penulis (sayang anonymous) apabila hati Baim Wong dipinjamkan ke 1.000 orang terkaya di Indonesia, maka aman lah rakyat Indonesia semuanya. Salut..

Tadi malam hampir 2 jaman saya nonton The Godfather of Broken Heart Didi Kempot ngamen di Kompas TV. Luarbiasa dalam 2 jam ngamen, terkumpul dana donasi 4 milyar lebih, itu saja ada gangguan di server, terjadi bottle neck hingga down sehingga banyak para donatur terkendala ketika mentransfer donasinya. Baca entri selengkapnya »

Mengapa Indonesia tidak memilih LOCKDOWN?

Pertanyaan ini kerap dilempar oleh sebahagian masyarakat Indonesia, “Mengapa Indonesia tidak memilih LOCKDOWN?”
Setelah kemarin ada surat balasan dari pedagang kecil kepada aktivis yang meminta LOCKDOWN di Indonesia, kali ini ada tulisan dari salah seorang senior jurnalis di Indonesia yang mencoba mengulasnya dari sudut pandang berbeda.

India Lockdown Chaos

Sepertinya tulisan Muhammad Guntur Romli ini paling tepat mewakili dari berbagai jawaban yang bisa disampaikan. Mari kita simak:

Saya bersyukur Pak Jokowi tidak memilih lockdown sejak awal. Karena, seperti halnya India bisa jadi kacau. Pengumuman lockdown mendadak, tanpa persiapan. Masyarakat panik. Mereka bergerak seketika, menghindari lockdown, ternyata terjebak. Kacau. Chaos. Belum lagi kerumunan yang kacau itu menjadi potensi besar penyebaran virus corona. Baca entri selengkapnya »

Balasan Pedagang Kecil kepada Aktivis terkait Lockdown Corona

Balasan surat pedagang makanan kecil yang sangat menohok untuk aktivis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang meminta Presiden Jokowi mundur di tengah bencana virus Corona.

Teruntuk Riyan Hidayat, Apa yang bisa Anda Beri untuk Indonesia?

Kenalkan nama saya Reza. Seorang pekerja lepas, pelaku seni dan pedagang makanan juga. Saya membaca kiriman surat terbuka di WA, tertulis dari anda. Disitu anda mengaku sebagai seorang Aktivis, Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017. Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Membaca surat anda membuat batin saya bergetar hebat. Apakah seperti ini kelas aktivis di tengah situasi krisis terbesar Bangsa menghadapi virus Corona? Apakah segini ukuran intelektualitas mahasiswa pascasarjana? saya tidak berpendidikan tinggi seperti anda, malu memanggil anda sebagai aktivis atau mahasiswa.

Bung Riyan, tulisan anda panjang lebar, nyaris tanpa isi. Hanya mengoceh. Hanya nyinyir. Narasinya disusun seolah anda seorang intelektual, tapi isinya NOL BESAR. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sosial Budaya. Tag: , . 1 Comment »

LIAR

LIAR
(oleh Yuktiasih Proborini)

Dua malam lalu, diskusi seru lewat telpon bersama seorang teman sangat dekat.
Entah mengapa, kami connected sejak kenal pertama kali.
Ke mana pun kami pergi akan selalu terhubung.
Ke mana pun kami pindah kota, selalu bisa tersambung.
Kadang aku merasa aneh dengan hubungan kami. Nyata tapi maya.
Sangat nyata tapi tidak kasat mata.

Kami sepakat bahwa Corona COVID 19 ini adalah seperti pikiran liar.
Iqra kami sama:
dia adalah pikiran liar manusia yang sudah merajalela dan bahkan kadang menghasilkan hal yang menafikan Kuasa dari Sang Maha Kuasa. Baca entri selengkapnya »

SIAPAKAH SI MUNAFIK ITU…❓

Saat China terkena corona, para kadrun dan ustadz wahabi tepuk tangan kegirangan “mampus lu komunis musuh Islam”. Giliran corona menyerang Makkah, mereka bisu.

Saat China terkena corona warganya bersatu padu bersama mengatasi virus. Nilai kemanusiaan dan empati sesama anak bangsa mereka tunjukkan. Semua ikhlas jadi relawan demi keselamatan bangsa. Padahal mereka dibilang kapir komunis.

Indonesia yang mengaku paling sholeh, religius dan beriman malah saling hujat dan terpecah belah antar anak bangsa. Isu corona ditunggangi dan dijadikan komoditi politik murahan demi ambisi berkuasa kelompok kadrun.

Mulai dari kroco, ustadz, anggota dewan hingga gubernur kadrun bersatu bikin hoax, provokasi dan menebar ketakutan agar tercipta chaos yang memungkinkan mereka untuk makar dan membangkitkan revolusi. Baca entri selengkapnya »

Bantuan Corona dari China

Pada awal penyebaran CoViD-19, Jepang memberikan paket bantuan kemanusiaan ke China. Di kotak-kotak bantuan tersebut, mereka menuliskan kutipan puisi dari zaman Dinasti Tang:
“Meski berasal dari tempat yang berbeda, namun kita berada di bawah langit yang sama”

Tindakan inspiratif ini kemudian diikuti oleh China ketika membantu negara-negara lain.

Ketika China mengirim paket bantuan ke Korea Selatan, di kotak-kotak bantuan tersebut, mereka menuliskan kutipan dari zaman Dinasti Joseon:
“Pohon pinus dan pohon cemara di musim dingin, tidaklah saling melupakan satu sama lain”

Ketika China mengirim paket bantuan ke Iran, di kotak-kotak bantuan tersebut, mereka menuliskan kutipan dari zaman Persia Muslim:
“Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber, ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian tubuh yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri” Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: